PEMBANGUNAN Tunnel 11 Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di kawasan Gunung Bohong menggangu ketenangan warga Kompleks Tipar Silih Asih, RW 13 Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Pasalnya, warga merasa terganggu dengan aktivitas pembangunan tunnel atau terowongan mega proyek tersebut, karena dilakukan dengan metode peledakan atau blasting sehingga mengancam keselamatan warga.

Sejak dua tahun lalu, pembangunan tunnel yang dikerjakan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) merusak dinding dan lantai rumah warga setempat. Sejak saat itu, warga mencoba membuat perlawanan dengan mengadakan demo hingga menyampaikan surat keluhan kepada Gubernur Jabar, namun belum direspons.

Malah, dalam dua bulan terakhir, aktivitas peledakan semakin menjadi bahkan mendekati permukiman warga. Saking kesalnya, pada Selasa (3/6) sejumlah warga menyeruduk lokasi proyek dengan maksud agar aktivitas tersebut dihentikan segera.

“Kemarin warga menyampaikan surat berisi peringatan supaya blasting tidak dilanjutkan hingga ada jaminan keamanan dan keselamatan warga. Tapi pimpinannya enggak ada di tempat,” kata Ketua RT 04 RW 13 Kompleks Tipar Silih Asih, Heru Agam, Kamis (3/6).

Heru mengaku, setiap kali dilakukan peledakan, warga merasakan getaran yang sangat kuat hingga perabotan dalam rumah bergoyang seperti terjadi gempa.

“Kami khawatir apalagi kalau pengerjaannya dilakukan malam hari saat warga tertidur,” ujarnya.

Ketua RW 13 Kompleks Tipar Silih Asih, Rudianto mengungkapkan, dalam dua bulan terakhir ini kegiatan peledakan semakin sering. Dalam sehari bisa tiga kali warga mendengar suara ledakan sampai merasakan getaran dari dasar tanah.

“Kalau enggak salah waktu tanggal 29 atau 31 Mei kita merasakan ada 11 kali ledakan cukup kuat,” bebernya.

Rumah warga yang terdampak proyek mengalami retak-retak pada bagian dinding. Berdasarkan catatan pihak RW setempat, ada sekitar 22 rumah yang mengalami kerusakan paling parah.

Sejak awal proyek, menurut dia, warga sudah menolak pembangunan tunnel dengan cara blasting lantaran bakal mengancam keselamatan warga. Bukan hanya itu, warga pun kini sulit memperoleh air bersih karena rusaknya sumber mata air di wilayah itu.

“Kita bukan mau menghalangi proyek pemerintah, tapi hanya minta jaminan keselamatan, perlindungan. Dulu kita dijaminkan aman, tapi sekarang buktinya malah jadi parah,” jelasnya. (N-1)

 






Sumber Berita

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *