INOVASI menjadi salah satu kunci bagi sebuah usaha untuk bisa bertahan di tengah ketatnya persaingan. Ditambah lagi kini perekonomian di seluruh dunia tengah tidak stabil akibat pandemi covid-19.

Hal itu pula yang coba terus dilakukan PT  Berkah Industri Mesin Angkat (BIMA)  dalam melakukan perawatan  alat bongkar muat. Mereka terus berinovasi  untuk tetap eksis dan sekaligus sebagai bentuk dukungan atas arahan Presiden RI Joko Widodo perihal penggunaan Biosolar B30 Melalui Peraturan Menteri ESDM nomor 12 tahun 2015.

Baca juga: Dirut Pertamina Monitor Pasokan dan Distribusi BBM Secara Digital

 

Guna mengoptimalkan kinerja mesin dengan menggunakan Biosolar B30, PT BIMA melakukan inovasi berupa  filtrasi bahan bakar Biosolar B30 sebagai metode terkini perawatan alat bongkar muat. Uji coba telah dilakukan di beberapa wilayah cabang dan terbukti mampu mengurangi endapan berupa gel yang dihasilkan dari bakteri yang terdapat pada biosolar yang mengendap, sehingga breakdown akibat filter solar yang buntu bisa diminimalkan.

Selain itu penggunaan filtrasi bahan bakar B30 juga mampu menekan resiko kerusakan pompa bahan bakar & injektor, dan menekan kandungan air pada mesin yang dapat menjadi penyebab terjadinya korosi dan guratan pada mesin.

“Efek jangka panjangnya umur injector dan fuel pump menjadi panjang dan kinerja engine pun bisa maksimal untuk mendukung operasional di lapangan,” jelas Nazar, Site Manager PT BIMA cabang Semarang.

Inovasi filtrasi  bahan bakar B30 ini sendiri, kini telah resmi digunakan sebagai metode perawatan alat di Terminal Peti Kemas Semarang. Tidak hanya itu inovasi lain yang dilakukan PT BIMA, yang merupakan cucu  dari PT Pelindo III (Persero) melalui BJTI Port di  cabang Semarang adalah  penerapan  sistem pengulangan (redundancy system) pada mesin RTG untuk menjamin utilisasi peralatan Bongkar muat di pelabuhan terus meningkat.

Redundancy system yang diterapkan PT BIMA dalam perawatan RTG di Terminal Petikemas Semarang sebagai upaya mendukung operasional di lapangan secara optimal, pada awalnya ketika mesin tersebut memasuki jadwal overhaul, maka alat tersebut harus menunggu setidaknya 30 hari dan berhenti beroperasi sampai dengan proses overhaul selesai. Tetapi dengan inovasi redundant system, mesin pengganti telah dipersiapkan, sehingga alat tersebut hanya memerlukan waktu 1-2 hari saja untuk berhenti beroperasi.

Direktur Operasional dan Teknik  PT BIMA Bayu Setyadi mendukung penuh kedua inovasi yang dilakukan oleh tim terkait sebagai bentuk dukungan pada program pemerintah juga sebagai implementasi nilai inti AKHLAK Kementerian BUMN yang selalu digaungkan oleh Pelindo III Grup. Ia berharap langkah inovatif ini juga dapat dimanfaatkan cabang lain mengingat potensi kecilnya kerugian dalam aktivitas bongkar muat pelabuhan.

“Apapun program pemerintah kami siap menjadi bagian dari masalah sebagai solusi, PT BIMA akan senantiasa dukung dengan berbagai inovasi agar arus bongkar muat pelabuhan lancar,” tuturnya, ia pun menambahkan “Juga selama mesin dirawat dengan baik dan sepenuh hati, kemungkinan untuk mesin breakdown juga kecil,” ujar Bayu. (RO/A-1)






Sumber Berita

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *