YOGYAKARTA, iNews.id – Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berpesan agar sejarawan Muhammadiyah berpikiran terbuka dalam proses merekonstruksi peristiwa sejarah. Sejarawan Muhammadiyah tidak boleh terjebak pada dogma dan mampu membuktikan dengan kaidah ilmu. 

“Memahami sejarah itu perlu hati, perlu ada kejujuran dan perlu berpikiran terbuka,” kata Haedar Nashir, saat menyampaikan pidato kunci pada Kongres Sejarawan Muhammadiyah yang dipantau secara virtual di Yogyakarta, Sabtu (28/11/2021).

Ia berharap sejarawan Islam, khususnya sejarawan Muhammadiyah, tidak terjebak pada dogma serta mampu mampu membuktikan peristiwa sejarah berlandaskan kaidah ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Watak ilmu pengetahuan itu terbuka untuk didialogkan, terbuka untuk dikoreksi dan saling koreksi,” kata dia.

Meski demikian, menurut dia, upaya rekonstruksi sejarah kerap kali menjadi buntu ketika bersinggungan dengan politik yang syarat kepentingan individu maupun kelompok.

Atas dasar politik, menurut dia, sejarah rawan dimanipulasi.

“Sejarah kerap dipagari kepentingan jangka pendek dan dalam kepentingan politik jangka pendek inilah kadang terjadi pendustaan terhadap sejarah atau konstruksi sepihak terhadap sejarah,” kata dia.

Editor : Ainun Najib

Bagikan Artikel:





Sumber Berita

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *