PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Minggu (6/6), mengatakan sebuah koalisi yang baru dibentuk, yang siap menggulingkan dirinya, adalah hasil dari kecurangan pemilu terbesar dalam sejarah demokrasi.

Dia membuat tuduhan tersebut pada saat kepala keamanan dalam negeri Israel memperingatkan publik tentang prospek kekerasan politik.

Netanyahu memfokuskan tuduhannya pada janji kampanye yang dilanggar oleh orang yang akan menggantikannya sebagai perdana menteri, nasionalis Naftali Bennett.

Baca juga: Media Sosial Batasi dan Hapus Konten Palestina

Bennett berjanji tidak bermitra dengan partai-partai sayap kiri, tengah. dan Arab. Tetapi, Rabu (2/6), bersama pemimpin oposisi Yair Lapid mengumumkan mereka telah membentuk koalisi pemerintahan dengan faksi-faksi dari seluruh spektrum politik.

Di bawah kesepakatan rotasi, Bennett akan menjabat pertama sebagai perdana menteri, yang kemudian digantikan Lapid.

Tidak ada tanggal yang ditetapkan untuk pemungutan suara di parlemen untuk menyetujui pemerintah baru tersebut, yang mengikuti pemilu pada 23 Maret, tetapi secara luas diperkirakan akan dilantik pada 14 Juni.

“Kami menyaksikan kecurangan pemilu terbesar dalam sejarah negara ini, menurut pendapat saya dalam sejarah demokrasi mana pun,” kata Netanyahu dalam pernyataannya kepada legislator dari partai sayap kanannya, Likud.

“Itulah mengapa orang merasa ditipu dan mereka merespons, mereka tidak boleh diam,” katanya dalam sambutannya, yang disiarkan langsung dan secara tidak langsung merujuk pada janji kampanye Bennett untuk tidak bekerja sama dengan Lapid dan lainnya.

Netanyahu, pemimpin terlama Israel, telah menjabat sejak 2009, dan masa jabatannya telah diselimuti pengadilan korupsi yang sedang berlangsung, saat dia telah menyangkal melakukan kesalahan.

Sambil mengutuk kekerasan dan hasutan, Netanyahu, 71, mengulangi sebutannya atas koalisi Lapid-Bennett sebagai aliansi kiri yang berbahaya.

“Pemerintah ini membahayakan Israel dengan bahaya seperti yang belum pernah kita lihat selama bertahun-tahun,” katanya.

Dia menekankan akan menentang keras pembentukan pemerintahan baru tersebut. Koalisi baru yang beragam secara politik itu, lanjutnya, tidak akan mampu melawan Amerika Serikat (AS) jika Washington kembali ke kesepakatan nuklir dengan Iran atau berurusan dengan militan Hamas. (CNA/OL-1)






Sumber Berita

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *