LANCARNYA rantai pasok Sumber Daya Material dan Peralatan Konstruksi (SDMPK)menjadi salah satu perhatian Kementerian pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), khususmya Direktorat Jenderal Bina Konstruksi. Hal itu karena terkait dengan sejumlah proyek infrastruktur yang juga sedang digalakkan pemerintah.

Direktur Kelembagaan dan Sumber Daya Konstruksi Kementerian PUPR Nicodemus Daud menegaskan, karena itu penting adanya pencatatan Sumber Daya Material dan Peralatan Konstruksi (SDMPK) sesuai amanat Peraturan Menteri PUPR NO.7 TAHUN 2021 tentang Pencatatan Sumber Daya Material dan Peralatan Konstruksi.

“Dalam Permen itu disebutkan bahwa tujuan pencatatan SDMPK ini adalah untuk menyiapkan pangkalan data SDMPK, Meminimalkan ketidakpastian informasi terkait ketersediaan SDMPK, mendukung pemenuhan standar Keamanan, Kesehatan, Keselamatan, dan Keberlanjutan (K4),” katanya dalam keterangan tertulis.

Di sisi lain, Nicodemus juga menyoroti sejumlah hal dalam mendukung rantai pasok SDMPK dari kunjungannya ke sejumlah fasilitas industri, salah satunya fasilitas produksi baja ringan milil PT Tatalogam Lestari di kawasan industri Silicon Valey, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Ia mengungkapkan, temuan pertama adalah soal ancaman terganggunya produksi yang bisa berdampak pada kerugian yang tidak sedikit.

“Ternyata jika ada sedikit gangguan saja, misalnya listrik mati, atau gasnya mati. Itu ternyata membuat satu kali produksi itu barang rejectnya banyak sehingga kerugian orang usaha itu menjadi besar. Itu ternyata harus jadi perhatian kita, bukan sekedar materialnya saja, tapi juga seluruh pendukungnya” ujar Nicodemus.

Temuan kedua, yang menjadi sorotan Nicodemus adalah masih tingginya permintaan Cold Roll Coil (CRC) sebagai bahan baku BJLAS. Namun saat ini suplainya terhambat karena fluktuasi harga dan alokasi yang terbatas sehingga hal ini harus menjadi perhatian khusus.

Baca juga : Kawasan Industri di Maluku Utara Bisa Gaet Investasi Rp328 Triliun

Berikutnya, temuan ketiga Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada material konstruksi Tatalogam Group. Nicodemus mengaku terkejut mengetahui TKDN untuk produk BJLAS yang diproduksi PT Tata Metal Lestari sudah mencapai 67 persen.  Nicodemus mengapresiasi dan mendukung peran aktif dari PT tatalogam Lestari karena terus meningkatkan TKDN-nya.  

“Dari sana kami punya tugas untuk mulai dorong ke Kementerian Keuangan, ke Bappenas dan lainnya supaya dapat apa kalau sudah mencapai, katakanlah sampai 70 persen (TKDN)? Atau contoh lainnya pajak dikurangi, kalau sudah green (hasilkan produk ramah lingkungan). Upaya ini saya kira perlu mendapatkan suatu reward,” terangnya. 

PT Tatalogam Lestari pun mendukung langkah-langkah yang diambil Kementerian PUPR terkait SDMPK ini. Vice Presiden PT Tatalogam Lestari Stephanus Koeswandi menyebutkan, rantai pasok material konstruksi harus dijaga keseimbangannya. Karena dampaknya cukup siginifikan dalam pembangunan infrastruktur di tanah air. 

“Industry konstruksi sangat penting menjadi  tulang punggung dalam pemulihan ekonomi karena dampak pandemic covid 19. Karena itu kami sangat berterimakasih atas kunjungan Direktur Kelembagaan dan Sumber Daya Konstruksi Kementerian PUPR, bapak Nicodemus Daud untuk melihat kesiapan dan memahami kesulitan-kesulitan apa yang terjadi di lapangan. Yang harus digaris bawahi, kami di Tatalogam Group juga mengusung rantai pasok material konstruksi. Kalau diindustri. Kalau di bisnis kita bicara ekosistem dari hulu ke hilir. Kita kawal. Karena ekosistem baja ringan ini perlu kita jaga supaya selalu sehat dan berkembang terus khususnya dalam mendukung infrastruktur, terutama dalam pembangunan ibukota baru kita.,” kata Stephanus.

Patut diketahui, PT Tatalogam Lestari merupakan salah satu produsen baja ringan nasional yang memproduksi genteng metal dan baja ringan yang sudah mengantungsi sertifikat TKDN dan SNI. Tatalogam Group juga merupakan perusahaan manufaktur logam pertama yang telah bertransformasi menuju industri 4.0.  

Anak usaha PT Tatalogam Lestari, yakni Tata Metal Lestari adalah pabrik baja lapis zinc-aluminium untuk bahan baku genteng metal dan baja ringan dengan merek dagang Nexalume. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi sebesar 225.000 ton per tahun. 

Standar mutu yang tinggi dan telah diakui di luar negeri, serta proses produksi ramah lingkungan (Bersertifikat green label lavel Gold) yang membuat produk Nexalume banyak diminati di dalam maupun luar negeri. Hal ini dibuktikan dengan telah diekspornya Nexalume  ke berbagai belahan dunia. (RO/OL-7)






Sumber Berita

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *