KOMISARIS Independepn PT Pelindo 1, Irma Suryani Chaniago mengatakan, penunjukan dirinya sebagai Komisaris Pelindo bukan semata karena dirinya jubir tim kampanye Jokowi, melainkan juga karena kompetensinya.

Pernyataaan Irma itu untuk menjawab tulisan Asyari Usman berjudul “Komisaris.untuk Pendukung, Apakah BUMN Milik Jokowi?”

“Pernyataan sinis (Asyari Usman) ini tentu akan menjadi beralasan jika pendukung yang diangkat sebagai komisaris oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk menduduki posisi tersebut,” kata Irma.

“Mohon maaf, betul saya adalah juru bicara Jokowi-Ma’ruf Amin saat pilpres lalu. Pertanyaan nya, apakah kemudian penunjukan saya sebagai komisaris independen PT. Pelindo 1 dianggap tidak berdasar oleh saudara Asyari usman? Salah besar beliau, saya Irma Suryani Chaniago bekerja selama 23 tahun di PT. Pelindo 2 sebelum kemudian saya terpilih sebagai anggota DPR RI dari Nasdem periode 2014-2019 dan ditempatkan di komisi 9,” tutur Irma.

Irma menambahkan pada 2018 dirinya dinobatkan sebagai salah satu anggota DPR terbaik oleh panggung parlemen indonesia. Saat di DPR Irma juga menjabat Sekretaris Jenderal Kaukus Perempuan Parlemen Republik indonesia. 

“Artinya saya memiliki kapasitas, kapabilitas, dan akuntabilitas sebagai komisaris independen Pelindo 1 dan sebagai ketua komite audit di perusahaan tersebut,” terang Irma.

Baca juga : Ini Penyebab Munas Kadin di Bali Diundur

Irma menghargai kritik Asyari Usman, asalkan juga tidak gebyah-uyah tanpa melihat data dan fakta serta kompetensi seseorang. Komisaris yang diangkat oleh Menteri BUMN, kata Irma, yang berasal dari pendukung Jokowi tidak lebih dari 20% dari jumlah perusahaan plat merah, berikut anak perusahaanya.

Irma menegaskan, presiden manapun di dunia akan mengutamakan para pendukungnya untuk membantunya yang memilkki kapasitas  kapabilitas dan akuntabalitas serta punya loyalitas. 

“Pertanyaannya lagi, apakah tindakan ini salah?.Tentu tidak, karena beliau juga menyiapkan 80% pejabat karir, aktivis, pengusaha dan akademisi untuk mengisi posisi komisaris BUMN,” ujar irma.

Irma menegaskan, dirinya tidak anti-kritik, karena kritik merupakan kontrol sosial. Namun, ia menyesalkan bila kritik didasarkan pasa opini yang tidak konstruktif.

“Saya juseru memaknai tulisan saudara Asyari Usman ini tidak lebih dari upaya membangun opini negatif terhadap presiden,” tegas Irma.

“Wartawan senior seperti Anda harusnya menulis dengan data akurat agar memberikan teladan dan diskursus yang baik pada publik dalam melakukan kritik,” pungkas Irma. (RO/OL-7)






Sumber Berita

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *