SEMUA pelaku bisnis pasti bermimpi merek produk atau perusahaan yang mereka kelola akan bertahan lama. Setidaknya berumur hingga 50 tahun (setengah abad), 100 tahun (centinneal), atau lebih. Namun, hal itu tidaklah mudah. Apalagi setelah pandemi covid-19 menghempas dunia usaha sejak Maret 2020 hingga sekarang. Tak pelak mayoritas sektor industri terseok-seok dan perekonomian nasional pun terpukul.

Pertanyaannya, bagaimana perusahaan bisa bertahan begitu lama? Menurut pengamat bisnis dari Inventure, Yuswohady, yang paling mendasar yaitu kultur atau disebut juga core values yang kuat. Bentuk kultur ini bermacam-macam, semisal inovatif, adaptif, punya operational excellence, dan kolaboratif.

“Biasanya kalau perusahaan tersebut bertahan, kultur mereka sebetulnya sudah terbentuk. Kultur itulah yang juga menjadi landasan untuk bisa melanjutkan transformasi secara terus-menerus. Masalah strategi, digitalisasi, dan operasional memang penting, tetapi yang paling mendasar yaitu kultur yang sudah terbentuk,” ujarnya dalam webinar pada Rabu (28/7).

Meskipun begitu, lanjut Yuswohady, bukan berarti kultur termasuk sesuatu yang sengaja dibentuk. Menurutnya, kultur itu mau diarahkan atau tidak, pasti akan terbentuk. Dia menduga perusahaan yang disebut living legend membentuk kultur dengan evolving. Artinya, kultur ini dibentuk oleh karakter pendiri (founder) atau leader yang kuat, sehingga ia bisa mewarnai nilai-nilai yang ada di dalam organisasi.

Memang tidak banyak perusahaan atau merek yang bisa disebut legendaris. Kalau secara global, kita bisa merujuk hasil riset Arie de Geus, penulis buku The Living Company (1997). Bersama timnya, pada 1990-an ia menemukan fakta bahwa harapan hidup rata-rata (average life expectancy) perusahaan multinasional yang masuk daftar Fortune 500 hanya berkisar 40-50 tahun. Fakta lain, sekitar sepertiga dari perusahaan yang masuk daftar Fortune 500 pada 1970 lenyap ditelan masa pada 1983, baik karena diakuisisi, merger, maupun bubar. Jadi, perusahaan yang bisa menembus usia 50 tahun, bahkan 100 hingga 200 tahun, kehebatannya tidak diragukan lagi.

Dari penulusuran Tim Riset Swa pada 2021, ada sejumlah perusahaan dan merek yang usianya lebih dari 100 tahun dan saat ini tetap berkibar, baik swasta nasional maupun BUMN. Untuk perusahaan swasta ada PT Pura Barutama (didirikan Ong Djing Tjong pada 1908), PT Aneka Gas Industri Tbk (1916), PT Tiga Raksa Satria Tbk (1919), dan PT PT Grand Kartech Tbk (1921).

Untuk merek yang berusia 100 tahun, di antaranya Kopi Warung Tinggi, Kecap Benteng Teng Giok Seng, Kecap Cap Orang Jual Sate, Jamu Iboe, Minyak Gosok Cap Tawon, Dji Sam Soe, Soda Cap Badak, dan Peci M Iming. BUMN yang masuk dalam kelompok usia 100 tahun daftarnya lebih panjang lagi. Malahan, ada yang telah berusia lebih dari 200 tahun, antara lain PT Pindad dan PT Kimia Farma Tbk. Di samping itu, perusahaan pelat merah di barisan centinneal merupakan pemain utama di industri masing-masing, semisal PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Tabungan Negara, PT Kereta Api Indonesia, PT Bio Farma Tbk, dan PT Pegadaian Tbk.

Deretan merek produk atau perusahaan hebat versi majalah Swa itu mendapat apresiasi Indonesia Living Legend Companies dan Indonesia Living Legend Brands yang tiap tahun diadakan dan berubah nama-nama perusahaan yang masuk kategori. Untuk Indonesia Living Legend Companies dan Indonesia Living Legend Brands 2021, selain diberikan penghargaan juga diselenggarakan webinar pada Rabu (28/7). Dalam webinar gratis ini ada empat pembicara penting ialah Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, Direktur Pelaksana PT Nojorono Tobacco International Arief Goenadibrata, Direktur Utama Bank Sumsel Babel Achmad Syamsudin, dan Direktur PT Mulia Knitting Factory Hanan Supangkat. 

Para pembicara itu menyodorkan resep agar perusahaan tetap kuat, sehat, dan tangkas di usia 50+. Maklum, melewati usia 50 tahun atau lebih dengan kondisi perusahaan tetap sehat dan perkasa bagi perusahaan-perusahaan asli Indonesia tersebut bukanlah prestasi yang kebetulan. Apalagi di tengah badai pandemi covid-19 dan disrupsi teknologi tidaklah mudah dihadapi bagi perusahaan-perusahaan Indonesia. Namun, mereka tetap tegar dan kokoh berdiri dengan kinerja yang jempolan. Inilah rahasia yang mereka paparkan secara gamblang dalam forum webinar yang atraktif diadakan Swa.

Baca juga: DPR Dukung Pertamina Geothermal Energy Jadi Induk BUMN Panas Bumi

Lantas, bagaimana perusahaan-perusahaan atau merek produk dapat masuk dalam Indonesia Living Legend Companies dan Indonesia Living Legend Brands versi majalah SWA? “Perusahaan dan merek harus memiliki umur minimal 50 tahun, ¬†terus berkembang, dan menjadi pemain utama di industrinya atau di kategorinya (untuk merek). Jadi, perusahaan tersebut tetap tangguh, sehat, dan lincah,” jelas Kemal Effendi Gani, Group Chief Editor Swa. (RO/OL-14)






Sumber Berita

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *