Indonesia optimistis bisa menuju net zero emission pada 2060. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam acara Indonesia Green Summit bertajuk Green National Policy Menuju Indonesia Net Zero Emission 2060 yang diselenggarakan secara daring, Selasa (27/7).

“Saya sangat optimistis net zero emission bisa dilakukan lebih awal. Ada dua hal, pertama kemajuan teknologi yang akan lebih berkembang dari sekarang. Kedua, saya percaya dukungan finansial akan bagus karena ekonomi Indonesia akan lebih bagus dari sekarang,” kata Luhut.

Saat ini sendiri, pemerintah tengah mempersiapkan pembangunan kawasan industri hijau yang diharapkan akan memenuhi permintaan produk berbasis green energy di masa mendatang.

Selain itu, dikatakan Luhut, pemerintah juga tengah mempersiapkan Peraturan Presiden mengenai carbon trading yang diharapkan rampung pada pekan ini.

“Dalam carbon trading Indonesia akan memainkan peran penting. Jadi kita jangan hanya mengikuti maunya negara maju, tapi kita harus menentukan keadaan dunia khususnya pada karbon,” ucap Luhut.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) Alue Dohong mengungkapkan, dalam mencapai target menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 41% pada 2030, terdapat dua sektor yang menjadi tulang punggung, takni tata hutan dan lahan dan energi.

“Untuk di sektor kehutanan kita sudah on the right track. Kita punya korektif policy, salah satunya pencegahan deforestasi dan menngendalikan karhutla,” ungkap Alue.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia berhasil menurunkan deforestasi 75,03 % di periode tahun 2019-2020, hingga berada pada angka 115,46 ribu ha. Angka ini jauh menurun dari deforestasi tahun 2018-2019 sebesar 462,46 ribu ha.

Kebakaran hutan

Sementara itu, jumlah kasus kebakaran hutan di Indonesia sepanjang 2020 menurun dibanding 2019. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sejak 1 Januari hingga 20 Desember 2020, terdapat 296 hektar lahan hutan yang mengalami kebakaran. Angka tersebut menurun 82% dibanding tahun lalu yang mencapai 1,6 hektare.

Ia malah meyakini bahwa Indonesia bisa melampaui target yang telah ditetapkan apabila meningkatkan potensi pengurangan emisi dengan memanfaatkan karbon biru dan juga program pengendalian iklim lainnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, untuk mengatasi masalah iklim ada dua hal yang menjadi kunci, yakni dana dan teknologi. Untuk mencapai target nationally determined contributions (NDCs) hingga 2030 saja Indonesia membutuhkan dana sebanyak Rp4.520 triliun.

Tidak hanya berhenti pada sokongan dana, Sri menyatakan pihaknya juga mengeluarkan berbagai kebijakan yang akan berkontribusi untuk menurunkan Co2, seperti instrumen pemberian insentif fiskal pada aturan tax holiday, tax allowance, dan PPnBM.

“Perubahan iklim adalah risiko katastropik yang harus kita atasi dari sekarang. APBN sudah develop. Dan ke depan kita harus terus kembangkan green financing karena itu yang akan sangat diandalkan ke depannya,” pungkas Sri. (OL-12)






Sumber Berita

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *