SELALU ada sosok-sosok pahlawan tak dikenal yang terlahir dari perjuangan kemerdekaan di Tanah Air. Nama mereka tidak banyak dikenal awam kendati punya jasa dan peran tak terbantahkan dalam menegakkan kedaulatan Indonesia.

Kemerdekaan bangsa ini memang tak didapat dengan mulus. Bahkan, setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, campur tangan penjajah tak serta-merta hilang dari bumi Nusantara.

Pascakekalahan Jepang pada Perang Dunia II, Belanda tak mau melewatkan kesempatan untuk bisa kembali menguasai Indonesia meski pada saat itu secara de facto Indonesia telah merdeka.

Belanda khususnya menginginkan eksistensi mereka tetap terjaga di Indonesia bagian timur. Tanpa menunggu lama, pada 27 Desember 1946, Belanda mendirikan Negara Indonesia Timur.

Kembali dikuasai Belanda, masyarakat di wilayah Indonesia timur sempat mengalami masa sulit karena terombang-ambing dengan kekangan di berbagai lini kehidupan. Khususnya sistem kerja dan pembagian wilayah di daerah masing-masing.

Tak mudah bagi warga di wilayah Indonesia timur saat itu untuk hidup di bawah Belanda, sedangkan wilayah Nusantara lain sudah merdeka dan hidup di bawah pemerintahan Bung Karno. Tak sedikit anggota masyarakat setempat yang berjuang melawan eksistensi Belanda hingga akhirnya Negara Indonesia Timur bubar dan melebur menjadi Republik Indonesia pada 17 Agustus 1950.

Salah seorang yang berjasa dalam upaya memerdekakan wilayah Indonesia Timur ialah Drs Bonaventura Setitit. Lelaki kelahiran Rumaat, Kepulauan Kei, 16 Mei 1919, tersebut menjadi salah satu tokoh panutan warga Maluku pada momen perjuangan kembali melebur dengan Republik Indonesia saat itu.

Bonaventura Setitit disebutkan sebagai keturunan Raja Rumaat generasi VII trah Rahan Rusbal, Rat Songli. Ia ialah anak ketiga dari sebelas bersaudara. Ayahnya bernama Constantinus Kwas Setitit dan ibunya bernama Constantina Kablilak Welliken. Keduanya berasal dari keluarga Katolik yang sangat taat.

Kisah hidup pria yang akrab disapa Bon Setitit tersebut saat ini bisa disimak masyarakat awam lewat buku berjudul Sebiji dari Tenggara. Adalah putra kedua Bon, Stephanus G Setitit, yang menuliskan biografi itu sebagai tribute bagi sang ayah dan keluarga besarnya. Kisah Bon ini pun mengambil sudut pandang Stephanus yang telah bersusah payah mengumpulkan memento atau bukti jejak rekam Bon, dengan dibantu adiknya, LF Constantina Setitit.

Perjalanan hidup Bon Setitit diceritakan Stephanus mulai sang ayah berstatus sebagai pelajar di Makassar, bekerja di Merauke pada masa Hindia Belanda, bertugas sebagai controleur di Saumlaki, Kepulauan Tanimbar, hingga ketika ia akhirnya bekerja di Departemen Dalam Negeri di Jakarta.

Salah satu hal yang menonjol pada biografi setebal 140 halaman tersebut ialah nasionalisme dan keberanian Bon Setitit dalam memperjuangkan kedaulatan RI di Indonesia timur. Hal itu tampak antara lain dalam aksinya di tengah tekanan Belanda di Indonesia timur medio 1945 hingga meleburnya Negara Indonesia Timur dengan NKRI 1950.

Bon Setitit dengan keberanian tinggi melakukan hal yang sangat berbahaya bagi dirinya.

“Beberapa saksi mata dan sahabatnya membuat kesaksian bahwa ayah tanpa rasa takut dan ragu mengibarkan bendera Sang Dwi Warna di halaman kantornya.” (halaman 16)

Hal itu terjadi ketika Bon Setitit menjabat sebagai controleur (setara dengan bupati), pegawai pada pemerintahan Hindia Belanda di Saumlaki-Tanimbar. Peristiwa tersebut terjadi sekitar 1946-1947.

Penulis juga menceritakan peran Bon Setitit sebagai pemrakarsa terbentuknya Maluku Tenggara. Sebelumnya, pada 1947, ia dan rekan-rekannya mengajukan mosi kepada pemerintah Belanda dan NIT untuk menjadikan tanah kelahirannya, Kepulauan Kei, Aroe, Tanimbar, dan Selatan Daya menjadi Maluku Terselatan. Mosi itu dikabulkan. Maluku Terselatan kemudian menjadi Kabupaten Maluku Tenggara ketika di bawah NKRI. Disahkan oleh Presiden Soekarno pada 20 Desember 1952.

“Sebagai pemrakarsa ide pemekaran Provinsi Maluku dengan nama Maluku Terselatan pada 1946 (lihat Mosi Rakyat Kei tanggal 26 Juli 1947). Dia pun turut membidani terbentuknya Kabupaten Maluku Tenggara pada 1952. Kesepakatan terjadi pada 10 Desember 1951 di atas geladak KM Kasimbar.” (Halaman 15)

Bon Setitit juga sebagai inisiator pembangunan saluran air bersih dari Olilit Lama Tanimbar yang merupakan sumber mata air utama di wilayah tersebut saat itu. Bon mengajak masyarakat Tanimbar bergotong-royong membangun saluran air dengan hanya bermodalkan bambu sebagai alat utama penggalian.

 

Figur ayah

Tidak hanya membahas sisi patriotisme Bon, penulis juga mengungkapkan cerita sosok Bon Setitit sebagai seorang ayah. Diceritakan, meski disibukkan dengan pelbagai urusan sebagai pegawai pemerintah, Bon Setitit selalu meluangkan waktu untuk mendidik keenam anaknya menjadi pribadi yang disiplin, berpendidikan, dan bertanggung jawab.

“Dia pendiam, pekerja, kutu buku, dan tegas. Semua itu tampak jelas sekali dalam kehidupan kami sehari-hari.” (halaman 8)

Ia memiliki hobi berkebun yang hampir selalu dilakukannya setiap ada waktu senggang. Berbagai jenis sayuran dan buah ia tanam dan ia suguhkan untuk istri dan anak-anaknya. Hobi bercocok tanam itu, dikatakan penulis, sempat berupaya ia ikuti meski tidak berhasil.

“Ayah, selalu menyiapkan buah untuk kami bersama. Caranya mengupas buah apel dan mangga sangat unik, yaitu dalam satu potongan berbentuk spiral tanpa putus.

Ketika itu saya hanya melihat, bentuk yang indah tetapi hanya untuk dibuang, hingga kemudian saya tahu bahwa mengupas seperti itu ialah cara menghemat tenaga dan waktu, agar kulit mudah dibuang tidak berserakan dan membuat kotor.”

Biografi ini diakhiri penulis dengan cerita pada akhir kehidupan Bon Setitit. Bon Setitit meninggal pada 4 Januari 1972 di Jakarta karena kanker hati.

Penyesalan penulis karena tak dapat berana di saat terakhir sang ayah juga dituliskan pada bab berjudul MasaMasa Terakhir. “Saya menyesal tidak dapat hadir pada saat terakhirnya di kamar operasi. Saya baru mengetahuinya saat menuju ke rumah sakit, setelah operasi itu berjalan,” (halaman 79)

 

Sejarah bangsa dan testimoni

Selain mengisahkan tentang perjalanan hidup Bon Setitit, dalam biografi tersebut penulis juga menyertakan beberapa bab tentang sejarah dan perjalanan bangsa Indonesia. Mulai tentang sistem pemerintahan Hindia Belanda sebelum 1900, sejarah zaman kebangkitan nasional 1900–1945, hingga zaman pendudukan Jepang pada 1942–1945.

Meski tak terlalu tebal, biografi tersebut juga dilengkapi dengan beberapa testimoni dari tokoh-tokoh terkenal. Seperti pendiri Partai NasDem Surya Paloh, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, dan Menteri Perhubungan RI 1968-1973 Frans Seda.

“Keberanian menaikkan bendera sang saka merah putih pada masa beliau berada pada puncak kariernya sebagai controleur pada pemerintahan Hindia Belanda itu patut kita acungkan jempol,” ujar Surya Paloh yang tertera di halaman iii.

Sementara itu, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim dalam testimoninya mengatakan apa yang ditulis penulis dalam biografi Bon Setitit menjadi penting karena kiprah tokoh pejuang atau perintis kemerdekaan yang dipublikasikan dalam buku. Kisah-kisah yang tertuang dalam biografi tersebut tidak banyak diketahui orang.

“Jiwa patriot yang tertanam dalam dirinya tetap menyala-nyala dan ditunjukkan dengan banyak tindakan yang dilakukannya demi menjaga martabat bangsa,” ujar Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim di halaman v.

Gambaran sosok Bon sejatinya akan paripurna jika kita dapat mengetahui masa hidupnya yang ‘hilang’. Bagaimana seorang bocah 12 tahun yang pergi merantau dan belakangan dianggap hilang karena tiada kabar, dapat kembali ke kampung halamannya sebagai seorang pejabat pemerintah yang telah menempuh pendidikan tinggi, bahkan hingga ke luar negeri. Namun, barangkali misteri itu pula yang menjadikan sosok Bon lebih menarik. Yang jelas, mencermati biografi ini tentunya akan menambah khazanah kita mengenai patriot bangsa yang barangkali tidak (terlalu) terkenal, tapi memiliki semangat dan nasionalisme yang perlu kita lanjutkan. (M-2)






Sumber Berita

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *