DIREKTUR Utama (Dirut) Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyatakan menutup sementara rute penerbangan ke Melbourne, Australia. Hal ini dikarenakan untuk menyesuaikan frekuensi penerbangan yang terbatas akibat adanya pembatasan perjalanan selama pandemi.

“Melbourne iya. Kami menghentikan sementara (penerbangan) sampai kondisi membaik. Perth (Australia) ada juga rencana kita tutup,” kata Irfan kepada Media Indonesia, Rabu (16/6).

Irfan menjelaskan, keputusan ini juga dilatarbelakangi oleh sikap Pemerintah Australia yang membatasi masuknya pesawat dari luar ke wilayah mereka hanya maksimal 50 orang. Selain itu, alasan lainnya karena trafik penerbangan yang jarang dari Jakarta-Melbourne atau ke kota lainnya di Australia.

“Selama ini penerbangan Garuda hanya seminggu sekali (ke Australia). Tapi yang Sidney masih jalan (rute penerbangan). Kami masih monitor terus,” ungkap Dirut Garuda itu.

Irfan juga mengatakan, meski maskapai Australia, Qantas Airways telah menutup penerbangan internasional sejak tahun lalu akibat lonjakan kasus Covid-19, Garuda sebelumnya tetap membuka akses penerbangan ke Negeri Kangguru itu.

“Qantas kan sudah tutup semua penerbangan internationalnya dari tahun lalu. Tapi, kami terus bertahan karena penting rute itu. Ada kepentingan untuk WNI dan WNA Australia,” pungkasnya.

Sebelumnya, Maskapai nasional itu diminta fokus menyasar pasar domestik guna menyelematkan bisnis perusahaan pelat merah yang terlilit utang hingga Rp70 triliun akibat pandemi. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mendorong langkah itu.

“Memang pergerakkan wisatawan nusantara ini menjadi andalan kita. Ada beberapa program yang kita giatkan seperti Bangga Berwisata di Indonesia. Ini diharapkan bisa dorong Garuda melewati masa-masa sulit,” ucap Politikus Partai Gerindra itu, pada (7/6) lalu.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo membeberkan permasalahan pelik maskapai tersebut ialah selama ini terlalu banyak menyewa pesawat dengan harga yang mahal, hingga menimbulkan permasalahan jangka panjang sampai saat ini.

“Pesawat yang di sewa di masa lalu itu terlalu banyak dan kemahalan. Ini menjadi penyakit masa lalu Garuda, di mana cost structure-nya (struktur biaya) jauh melebihi dari maskapai yang ada,” tuturnya. (Ins/OL-09)






Sumber Berita

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *