PEMBATASAN kendaraan bermotor roda empat lewat ganjil genap saat ini masih dibekukan sejak pandemi covid-19 berlangsung Maret lalu. Namun demikian, terjadi peningkatan kepadatan volume kendaraan bermotor yang berakibat pada kemacetan di Jakarta. Hal ini disinyalir terjadi karena mulai maraknya aktivitas warga di luar rumah meskipun saat ini masih masa pandemi covid-19.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo pun mengatakan pihaknya berencana menerapkan kembali ganjil genap di masa pandemi meski saat ini masih sebatas tahap pengkajian. Menurut dia, selama pandemi, ganjil genap bisa saja dilakukan secara bertahap dan tidak menyeluruh di 22 ruas jalan yang sebelumnya menjadi kawasan ganjil genap.

Baca juga: Bakal Uji Coba Pembukaan Karaoke, Disparekraf: Kapasitas 25%

“Memang saya setuju kita masuk pelonggaran gage maka tidak total di 25 ruas jalan tapi bertahap. Kita identifikasi kawasan yang kemudian jadi tujuan dari pelaku perjalan secara umum di sana kita lakukan pembatasan,” kata Syafrin dalam diskusi virtual, Rabu (2/6).

Pihaknya mengaku sudah memiliki data-data kawasan yang menjadi tujuan para pelaku perjalanan serta tingkat kepadatannya sehari-hari selama pandemi covid-19. Jika nantinya sudah dapat disetujui untuk dilakukan ganjil genap, Syafrin menegaskan pihaknya akan memperkuat layanan angkutan umum di kawasan-kawasan tersebut.

“Kami bisa kuatkan layanan angkutan umumnya baik TransJakarta, MRT maupun layanan angkutan umum reguler lainnya. Satu hal yang penting juga jangan dilihat dari transportasi saja tapi juga di sektor lainnya upaya masif pemerintah untuk melakukan penanganan pandemi,” tukasnya.

Syafrin melanjutkan, transportasi memang menjadi hilir kebijakan di saat pandemi. Namun, transportasi juga menjadi pemegang kunci dalam pengendalian pandemi. Contohnya, warga saat ini diminta untuk mengurangi mobilitas. Maka transportasi menjadi item yang bisa digunakan untuk mengunci mobilitas warga.

Hal yang sama diungkapkan oleh pengamat transportasi Dharmaningtyas. Dalam kesempatan yang sama, ia sependapat bahwa ganjil genap bisa diterapkan di masa pandemi. 

“Dengan pembatasan ganjil genap bisa membatasi aktivitas warga. Sehingga orang-orang yang mau sebenarnya bisa Work From Home (WFH) tapi saat ini tetap keluar rumah karena dipaksa kantor atau keinginannya sendiri bisa dipaksa agar bekerja di rumah. Yang keluar rumah nantinya benar-benar yang terlibat bekerja di sektor produksi dan esensial,” ujarnya. (OL-6)






Sumber Berita

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *