JAKARTA, iNews.id – Tak banyak yang tau, Anjungan DIY di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ternyata menyimpan banyak benda bersejarah. Anjungan ini dikelola oleh Badan Penghubung Daerah (Bahubda) DIY.

Dari sekian banyak anjungan daerah yang ada, Anjungan DIY adalah salah satu yang masih terawat dengan baik. Di tempat ini berbagai kegiatan digelar. Mulai dari pentas kesenian, diklat seni, pameran dan lain sebagainya. 

Kepala Banhubda DIY, Nugrohoningsih mengatakan Pemda DIY memiliki komitmen untuk tetap mempertahankan anjungan yang didirikan sejak 1974 ini.

“Anjungan mulai berdiri bersamaan dengan berdirinya 27 anjungan propinsi lain yang digagas oleh Ibu Tien Suharto untuk memberi informasi tentang kekayaan keragaman Indonesia dalam bentuk Indonesia Mini,” katanya di hadapan anggota Komisi A DPRD DIY dan wartawan Senin (7/6/2010).

Anjungan DIY TMII berdiri di atas tanah seluas 8.165 m2  dengan bangunan seluas 2.694,45m2. Bangunannya mengadopsi ciri fisik arsitektur tradisional khas Yogyakarta. Dibangun pada Tahun 1974 M dengan candra sengkala “Warna Sapta Kusumaning Bawana“. Anjungan ini merupakan gambaran rumah pangeran yakni nDalem Pangeran Nata Praja (Notoprajan).

Selain digunakan untuk berbagai kegiatan seni, di anjungan ini tersimpan berbagai benda bersejarah. Salah satu yang menarik adalah ranjang di mana Sri Sultan Hamengku Buwono IX lahir pada 12 April 1912. Ranjang ini diberi nama Pesareyan Tedeng. Pesareyan Tedeng ini sudah berusia ratusan tahun, meski begitu dipan ini masih terlihat kokoh. 

Di tempat ini juga tersimpan pasarean Pangeran Diponegoro dan pasarean berbahan marmer peninggalan Sultan HB V. Berbagai koleksi pusaka juga tersimpan rapi di dalam kotak kaca.  Di antaranya tombak Pusaka Kyai Garuda Temanten, keris pusaka berluk tiga dengan pamor ‘beras wutah’ yang bernama Kyai Jangkung Pacar.

Konon, pusaka yang bernilai tinggi ini dibuat oleh seorang empu ternama, R. Ng Kariyocurigo, yang hidup pada masa pemerintahan Sri Pakualam di tahun 1840. Dan masih banyak pusaka lainnya.

Anjungan DIY dibangun oleh Yayasan Guntur Madu. Yayasan ini oleh dibentuk Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sejak didirikan, anjungan ini dikelola oleh yayasan Guntur Madu dan baru pada 2001 resmi diserahkan pengelolaannya ke Pemda DIY.

Menurut Nugrohoningsih anjungan ini mengemban fungsi sebagai pusat pelestarian dan promosi budaya, pendidikan wawasan kebangsaan serta cinta tanah air.

“Anjungan ini juga serta sarana promosi dan informasi produk unggulan ekonomi daerah yang diselenggarakan Badan Penghubung Daerah DIY,” ujarnya.

Editor : Ainun Najib





Sumber Berita

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *